Ksatria Inkubator: Ubah Persepsi UKM “Low Technology”

Inkubator menjadi salah satu sarana yang dapat digunakan dalam penumbuhkembangan wirausaha baru berbasis teknologi. Dalam beraktivitas, inkubator menjalankan fungsi intermediasi sekaligus melakukan penguatan terhadap tenant atau calon wirausaha baru. Tidak hanya menyangkut produk, tetapi juga pasar dan akses permodalan. Inilah yang menjadi keseriusan dari inkubator baru bernama Ksatria Inkubator.
Ksatria Inkubator dibentuk oleh tiga orang pemuda, salah satunya adalah R. Putut Susetyo Bagus. Ksatria Inkubator berawal dari usaha Putut dan kedua temannya, untuk memfasilitasi alumni kenshusei, alias pemuda Indonesia yang melakukan program magang di Jepang.
Kenshusei ini merupakan program yang digagas oleh PT Japan Indonesia Economic Center (PT JIAEC), yang bergerak di bidang pelatihan tenaga kerja dan agen bagi tenaga kerja non-terampil, yang umumnya lulusan sekolah teknik menengah. Kurang lebih ada 5.000 alumni kenshusei di Indonesia sampai saat ini.
Melalui Koperasi Mitra Kenshusei Indonesia (KMKI), Putut dan dua temannya yang adalah alumni Kensushi mendirikan Ksatria Inkubator pada awal tahun 2015 ini. “Bedanya Ksatria Inkubator dengan inkubator lainnya adalah kami fokus pada ekonomi kerakyatan dan pengembangan teknologi,” kata Putut dalam acara CSR-PKBL Club Ke-3 di Philip Kotler Theater Class, Jakarta, Rabu, (26/8/2015).
Putut bilang, pada dasarnya, inkubator berfungsi sebagai pendampingan, pengembangan, dan improvisasi kepada para calon UKM untuk mengembangkan bisnisnya agar mampu menjadi perusahaan besar. Pihaknya pun kini bekerja sama dengan tiga kementerian, yaitu Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi & UKM, serta Kementerian Riset & Teknologi (Kemenristek).
Untuk kerjasamanya dengan Kemenristek, Ksatria Inkubator bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membantu program inkubasi di Pusat Inovasi LIPI untuk Teknologi (Center for Innovation) yang berlokasi di Jakarta. LIPI juga akan membangun gedung inkubasi serupa di Cibinong, Bogor.
“Kami mendapat bantuan Kemenristek untuk pengembangan alat. Hampir 80% alat-alat yang dikembangkan di LIPI justru berasal dari inkubator itu,” paparnya.
Putut juga menambahkan, inkubatornya ingin memutar persepsi yang bilang bahwa UKM Indonesia cukup rendah dalam pengaplisaan teknologi. Ia menyebut, salah satu peserta inkubator ada yang berhasil memproduksi tempe menggunaan alat-alat teknologi canggih. “Tidak hanya itu, UKM itu melakukan improvisasi bagaimana produksi tempe bisa memiliki masa simpan yang lebih panjang, rasa yang lebih enak, serta membuat segmentasi tempe bagi anak-anak dan orang dewasa,” cerita Putut.
Ksatria Inkubator saat ini berada di dua lokasi. Khusus di Jakarta, inkubator difokuskan pada bidang teknologi. Sedangkan di Bandung, di tujukan untuk pengembangan bisnis.
Saat ini, ada 65 wirausaha kategori tumbuh hingga matang di Jakarta. Sedangkan yang berada dalam tahap awal (pre) berjumlah 35 wirausaha. Sedangkan di Bandung, ada 60 wirausaha binaan yang masuk dalam kategori berkembang.
“Kami tidak berfokus pada teknologinya semata. Sebab, teknologi hanyalah alat. Akan tetapi, kami fokus pada sumber daya manusianya. Bagaimana mereka disiplin dan terampil,” tutur pria yang juga sebagai Business Strategy & Performace Director Koperasi Komunitas Alumni Jepang Indonesia (KAJI) ini.
Putut kembali menjelaskan, kerja sama Ksatria Inkubator dengan Kementerian Koperasi & UKM melahirkan kesepakatan untuk menjadikan koperasi sebagai salah satu sumber permodalaan UKM. Ia bilang, kerja sama ini akan mampu mengubah pola pikir koperasi yang unbankable menjadi bankable. “Ini pola permodalan, bukan perkreditan. Jadi, koperasi itu terlibat dalam pengembangan bisnis UKM,” ucapnya.
Ia menambahkan, salah satu pilot project kerja sama ini dapat dilihat di Pasar Caringin. Di sana, koperasi melihat market terlebih dahulu, lalu menciptakan produk. “Biasanya, koperasi bikin produk, tapi dijual ke anggota koperasinya. Harusnya, dijual ke pihak luar. Setiap daerah, Ksatria Inkubator akan memfasilitasi koperasi-koperasi itu dalam hal edukasi,” terangnya.
Ia mengakui, sampai saat ini, permodalan menjadi kendala utama UKM untuk bisa tumbuh. Sebab, kredit perbankan untuk UKM masih sangat kecil. Dalam rangka menjadikan UKM binaannya mendapat akses permodalan, Ksatria Inkubator bekerja sama dengan venture capital, seperti Akira Foundation dan Facebook. “Perusahaan asing memang lebih tertarik untuk mendanai UKM karena mereka sudah siap dalam hal riset dan jaringan,” tutup Putut.

Repost from http://marketeers.com/article/ksatria-inkubator-ubah-persepsi-ukm-low-technology.html by Saviq Bachdar

Berkat Teknologi Digital, UKM Dongkrak Perekonomian Nasional 2%

Usaha kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia semakin hari semakin menunjukkan taringnya.  Sebagai salah satu penggerak perekonomian nasional, berbagai upaya untuk mengembangkan UKM terus dilakukan. Salah satunya, mendorong pemanfaatan digital bagi penggiat UKM. Upaya ini dilakukan untuk menjadikan Indonesia tetap berada pada jalur yang benar menuju negara berpenghasilan menengah pada tahun 2025.

Laporan penelitian terbaru Deloitte Access Economics yang ditugaskan oleh Google menunjukkan bahwa meningkatkan keterlibatan UKM secara digital dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi tahunan Indonesia sebesar 2%.  Jika hasil penelitian ini diaplikasikan pada usaha kecil berdasarkan data untuk laporan ini (dengan rata-rata pendapatan Rp 1,4 miliar per tahun), bisnis yang masih offline dapat mengalami kenaikan pendapatan sebesar Rp 140 juta setahun seandainya bisnis tersebut merambah online lanjutan.

Meski peluang pemanfaatan digital sangat besar, namun laporan ini menyebut hampir tiga perempat dari UKM di Indonesia kehilangan kesempatan untuk menikmati keuntungan dari teknologi digital. Lebih dari sepertiga UKM di Indonesia (36%) masih offline, sepertiga lainnya (37%) hanya memiliki kemampuan online yang sangat mendasar seperti komputer atau akses broadband. Hanya sebagian kecil (18%) yang memiliki kemampuan online menengah (menggunakan web atau media sosial) dan kurang dari sepersepuluh (9%) adalah bisnis online lanjutan dengan kemampuan e-commerce.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa UKM yang lebih banyak memanfaatkan teknologi digital menjadi lebih kompetitif secara internasional . Ini menjadi pertimbangan penting dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. UKM dengan kemampuan online dasar memiliki pendapatan 6% lebih besar yang berasal dari pelanggan internasional, dibandingkan dengan UKM offline.

“Studi kasus dalam laporan ini seperti bisnis e-commerce fashion Islami HijUp dan Holycow Steak menunjukkan bahwa Indonesia dapat menghasilkan bisnis inovatif yang sukses – bisnis-bisnis semacam ini adalah masa depan ekonomi Indonesia,” kata Claudia Lauw, Managing Director PT Deloitte Konsultan Indonesia.

Laporan ini memberikan beberapa arahan yang dapat dilakukan pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Beberapa arahan tersebut, antara lain meningkatkan akses broadband, membantu semua UKM untuk menjadi bisnis digital, memperluas pembayaran elektronik (e-payment), memperluas akses terhadap investasi, dan memperluas layanan pemerintah secara elektronik (e-government).

Repost from http://marketeers.com/article/berkat-teknologi-digital-ukm-dongkrak-perekonomian-nasional-2.html by Septi Wijayani

Ekonomi Melemah, UKM Harus Tetap Produktif dan Kreatif

Kondisi pelemahan perekonomian nasional saat ini harus disikapi lain oleh para pelaku UKM. Para pelaku UKM harus tetap optimistis sambil terus mencari peluang untuk dikembangkan. Dalam kondisi apa pun, pelaku UKM harus menjaga dan mengembangkan produktivitas dan kreativitasnya. Khususnya, dalam menembus pasar yang lebih besar lagi. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah AAGN Puspayoga pada ajang Sanur Village Festival yang sedang digelar.

Optimisme tersebut, menurut Puspayoga, harus tetap dipelihara oleh pelaku UKM. Terlebih, Kementeriannya telah menurunkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari 22% per tahun menjadi 12%. Penurunan ini diharapkan juga mampu mengurangi pengangguran. Ternasuk untuk peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat.

“Harus diingat, selain produktif dan kreatif, pelaku UKM harus tetap menjaga kualitas dan mempertahankan nilai-nilai filosofis yang berakar dari warisan dan nilai-nilai budaya lokal,” ujar Puspayoga.
Dengan penurunan suku bunga ini pemerintah telah mengambil langkah terobosan yang sangat membantu para pelaku UMKM. Sebagai catatan total dana yang dialokasikan untuk KUR pada 2015 mencapai Rp 30 triliun. “Pada tahun 2016, kami akan menurunkan lagi KUR menjadi 9%. Ini adalah usaha pemerintah untuk menggeliatkan ekonomi kerakyatan,” tutup Puspayoga.

Repost from http://marketeers.com/article/ekonomi-melemah-ukm-harus-tetap-produktif-dan-kreatif.html by Ramadhan Triwijanarko

UKM Tetap Jadi Tulang Punggung Ekonomi Nasional

Perekonomian Indonesia yang sedang melemah akibat pengaruh global seharusnya tidak mengecilkan hati para pelaku UKM. Pasalnya, UKM di Indonesia sudah terbukti mampu bertahan dan bahkan menopang perekonomian nasional saat krisis ekonomi pada masa lalu.

Dengan demikian, para pelaku UKM seharusnya justru optimistis pada keadaan sambil terus mencari peluang dan tetap produktif sekaligus kreatif. Inilah yang disampaikan oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), AAGN Puspayoga pada Sanur Village Festival yang sedang digelar.

Puspayoga mencontohkan setelah krisis ekonomi 1998, para pelaku UKM mulai bermunculan. Sejak saat itu, UKM tumbuh menjadi tulang punggung perekonomian nasional. “Perlu diingat saat ini, tidaklah krisis. Kondisi sekarang adalah pelemahan ekonomi. Tahun 1998 ada krisis dan hanya beberapa negara yang menjadi korban dan salah satunya Indonesia. Kondisi saat ini adalah semua negara mengalami,” ujar Puspayoga.
Menurut Puspayoga, kondisi dollar yang terus menaik sedikit banyak tidak terlalu berpengaruh kepada para pelaku UKM. Bahkan, saat ini adalah saat yang tepat untuk bisa masuk ke pasar global. “Para pelaku UKM ini bukanlah kalangan yang meminjam uang dengan Dolar sehingga tidak terlalu berpengaruh,” katanya. Selain itu, Puspayoga mengingatkan agar pelaku UKM tetap eksis di segala kondisi, mereka harus tetap produktif sekaligus kreatif, tanpa meninggalkan nilai-nilai dan budaya setempat.

Repost from http://marketeers.com/article/ukm-tetap-jadi-tulang-punggung-ekonomi-nasional.html by Ramadhan Triwijanarko

Ini Roadmap bagi UKM agar Tak Mati di Tengah Jalan

Di tengah situasi yang sedang sulit seperti saat ini, harus tetap ada sektor yang cukup kuat untuk menyangga keberlangsungan perekonomian. Pada saat perusahaan-perusahaan konglomerasi ketar-ketir karena adanya krisis, sektor UKM dinilai sebagai sektor yang cukup stabil.

“Usaha Kecil Menengah atau UKM yang digadang-gadangkan tangguh meski skalanya kecil, merupakan sektor yang menjadi harapan semua pihak agar roda ekonomi tetap berjalan. Sektor UKM kini semakin banyak dilirik oleh perusahaan-perusahaan besar termasuk BUMN untuk dibina dan dikembangkan,” ujar Rai Falihah, Branch Head MarkPlus Bandung, dalam forum BUMN Marketeers Club bertema “Marketing for UKM” di MarkPlus Campus Bandung, Kamis (3/9/2015).

Forum ini mengatakan banyak orang masih salah mengartikan marketing hanya sebatas promosi. Kini, 65% konsumen malah sudah merasa sangat dibombardir oleh terlalu banyaknya iklan yang mengganggu di berbagai media konvensional, seperti televisi atau media cetak. Selain itu, iklan juga menelan banyak biaya, sehingga tidak cocok digunakan untuk perusahaan-perusahaan kecil yang baru berkembang.

Padahal kenyataannya, konsep dan proses marketing jauh lebih luas dari itu. Marketing bukan hanya promosi dan penjualan, tapi juga merupakan strategi dari bisnis itu sendiri. Sehingga, UKM yang berskala sangat kecil pun bisa mengaplikasikan konsep UKM ini dengan caranya sendiri. Inilah yang harus diketahui UKM-UKM dan perusahaan-perusahaan besar yang melakukan pembinaan terhadap UKM agar setiap langkah yang diambil menjadi lebih terarah.

Agar langkah-langkahnya mudah diikuti, terdapat roadmap yang bisa dijadikan panduan bagi UKM untuk menciptakan strategi yang efektif, tidak menghambur-hamburkan sumber daya, dan tepat sasaran.

Sebuah UKM bisa memulai dengan 4C: Change, Customer, Competitor, dan Company. Melihat perubahan atau change dari tren di pasar dalam berbagai aspek diperlukan agar produk tetap relevan. Pelaku UKM  juga harus mempertimbangkan anxiety and desire customer, serta kompetitor-kompetitor yang bergerak di bidang usaha yang sama. Setelah ketiganya diketahui, maka kita bisa bergerak ke company untuk mulai menyesuaikan perusahaan dengan perubahan, customer, dan kompetitor dengan menggunakan skema TOWS (Threat, Opportunity, Weakness, and Strength).

Setelah itu, barulah beranjak ke strategi inti yaitu PDB, yang terdiri dari Positioning-Differentiation-Branding. Positioning sendiri diartikan bagaimana sebuah produk dipersepsikan di mata konsumen. Differentiation adalah hal yang membuat produk unik dan stand-out dibandingkan dengan kompetitor. Sedangkan branding adalah identitas dan janji yang disampaikan oleh produk itu sendiri.

Jika strategi inti sudah dibuat, kita bisa bergerak ke masing-masing elemennya dan membuat strategi sekaligus taktik untuk langkah-langkah yang lebih terarah. Pertama, kita akan melakukan STP atau Segmentation, Targeting, dan Positioning. STP ini digunakan untuk memilih pasar mana yang akan dijadikan target, seberapa besar pasarnya, dan persepsi seperti apa yang diinginkan dari pasar tersebut.

Kedua, pelaku UKM masuk ke taktik yang terdiri dari Differentiation, Marketing Mix, dan Selling. Fungsinya adalah untuk memenangkan market share. Differentiation adalah memunculkan keunikan dari produk Anda, Marketing Mix terdiri dari Product, Price, Promotion, Place, Partisipant, Process , dan Physical Evidence, kemudian Selling atau penjualan itu sendiri. Langkah ketiga adalah memenangkan ketertarikan di dalam hati konsumen dengan Brand, Service, dan Process. Ketiga hal ini memberikan kesan yang mendalam sehingga customer akan terus-menerus melakukan repurchase.

Namun, di zaman yang serba connect seperti sekarang, repurchase tidak menjadi perhentian terakhir. Harus ada percakapan yang diciptakan di antara customer sehingga advocacy bisa terjadi. “Meski terlihat rumit, strategi ini sedikit banyak telah diterapkan oleh UKM-UKM di Bandung. Bahkan, seringkali tanpa disadari,” tambah Rai lagi.

Ia memberikan contoh, seorang pedagang cilok di Bandung sudah mengerti bagaimana cara segmentasi dan strategi pricing. Alih-alih memilih halaman minimarket sebagai tempat berjualan, ia mentarget anak sekolah yang lebih konsumtif. Dalam sehari, ia mangkal di dua tempat, sekolah negeri yang sederhana dan sekolah swasta yang mahal. Tentu dengan pricing yang berbeda.

Cerita yang lain lagi datang dari dua keripik legendaris asal Bandung, Maicih dan Karuhun. Keduanya memiliki tempat yang berbeda untuk pemasaran, karena mereka memiliki target pasar masing-masing. Ini menunjukkan bahwa segmentasi tidak serumit kelihatannya dan roadmap strategi marketing bagi UKM sangat bisa diaplikasikan.

Repost from http://marketeers.com/article/ini-roadmap-bagi-ukm-agar-tak-mati-di-tengah-jalan.html by Dilla Ibtida

Agar Sukses, UKM Harus Punya Diferensiasi

Membangun diferensiasi yang otentik mutlak dimiliki oleh merek untuk menjawab tantangan dari hadirnya sebuah persaingan. Lokal, unik, kreatif, dan menarik. Empat kata yang menggambarkan kreasi dari kerajinan milik Karya Oke. Mulai dari kreasi tas kain, kanvas, gerabah, mug, hingga art gallery dikemas dengan sangat kreatif dan bernilai seni oleh sang pemilik, Tri Harianto. UKM yang berasal dari Talangagung Kepanjen Malang ini memang menjual keunikan dari sisi desain. Karya Oke didirikan oleh Tri dan mulai aktif sejak bulan Juni 2014. Sejak itu, karyanya sudah berhasil menjajaki sekitaran Malang dan Surabaya.

“Melalui Karya Oke, kami ingin memperkenalkan dan mempromosikan budaya Indonesia dengan cara yang berbeda. Di sini, kami menyematkan nilai-nilai kebudayaan di berbagai media, mulai dari kanvas hingga kerajinan mug. Keunikan dari produk Karya Oke adalah desain nuansa budaya Indonesia yang dikemas dengan gaya klasik dan modern yang selanjutnya diaplikasikan ke dalam berbagai produk kerajinan,” jelas Tri.

Dalam urusan memarketingkan produknya, Tri mengandalkan kanal online, seperti Facebook dan website KaryaOke.com. Selain itu, Karya Oke juga mengandalkan konsinyasi dengan toko pusat oleh-oleh di Malang dan Surabaya serta pameran tingkat lokal. Dari sisi produksi, Tri menilai usahanya ini masih sangat sedikit karena memang baru mulai dan hanya dikerjakan oleh dua orang.

Repost from http://marketeers.com/article/agar-sukses-ukm-harus-punya-diferensiasi.html by Muhammad Perkasa Al Hafiz

Ternyata UKM Juga Butuh Layanan Storage

Pasar storage (penyimpanan data) yang semakin berkembang di Indonesia membuat HP semakin terpacu mengenalkan storage yang dimilikinya. HP ingin merangkul lebih banyak perusahaan untuk menggunakan solusi yang ditawarkan HP. Untuk itu, HP bukan hanya menyasar segmen enterprise, namun segmen UKM pun diliriknya. HP mencoba menawarkan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing segmen.

“Kami menyediakan midrange storage untuk segmen Small Medium Business (SMB) yang harganya US$ 19.000. Selain itu, kami menawarkan solusi untuk memenuhi kebutuhan segmen enterprise yang memiliki banyak kebutuhan dan penggunanya. Misalnya produk HP 3PAR StoreServ 20000,” kata Leonny Kosasih, Country Manager HP Storage Enterprise Group HP Indonesia kepada Marketeers di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Leonny menambahkan, bahkan HP memiliki storage untuk segmen low-end dengan harga US$ 5.000. Biasanya, produk tersebut diperuntukkan bagi perusahaan yang masih memiliki data yang sedikit. Misalnya, perusahaan konsultan pajak. Dengan harga yang terjangkau ini, penggiat UKM bisa menggunakan storage mengoptimalkan produktivitas mereka.

Meski HP memiliki portofolio produk storage yang luas, sambung Leonny, masih ada beberapa tantangan yang dihadapi. Leonny bilang, banyak perusahaan melihat penggunaan storage sebagai sesuatu yang belum mereka perlukan. Padahal, penggunaan storage dapat membantu perusahaan yang memiliki infrastruktur TI (Teknologi Informasi). “Contohnya bagi mereka yang tidak mengerti, untuk backup data menghabiskan waktu seharian. Padahal, jika solusinya benar,backup data hanya perlu waktu empat jam,” papar Leonny.

Tantangan lainnya, lanjut Leonny, bagaimana HP meyakinkan pengguna bahwa solusi yang ditawarkan HP ini sangat bagus untuk jangka panjang. Meskipun pada awalnya perusahaan harus mengeluarkan investasi yang besar, namun hal ini akan berpengaruh pada produktivitas perusahaan.

Untuk semakin mengedukasi pengguna mengenai pentingnya storage, HP terus melakukan pendekatan, baik ke segmen enterprise maupun UKM. HP menggunakan pendekatan secara personal dalam memasarkan produk ini. Mengingat, storage bukanlah produk consumer yang bisa dipasarkan menggunakan iklan di media.

“Kami akan mendatangi langsung konsumen atau konsumen menghubungi reseller. Lalu, reseller akan menawarakan solusi yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Hal ini dikarenakan setiap perusahaan memiliki kebutahan yang berbeda dan solusi yang berbeda tentunya,” tutup Leonny.

Repost from http://marketeers.com/article/ternyata-ukm-juga-butuh-layanan-storage.html by Septi Wijayani

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.